BP2KP - UNSOED SUKSES UJI ADAPTASI INPAGO UNSOED 1 DI CILACAP

warning: Parameter 1 to phptemplate_node_submitted() expected to be a reference, value given in /var/www/html/epetanibaru/includes/theme.inc on line 669.

“Melalui pendekatan ini, penyuluh akan memperoleh kemudahan untuk mengembangkan metode penyuluhan dan penyusunan materi penyuluhan yang diperlukan oleh pelaku utama dan pelaku usaha, sedangkan pelaku utama dapat melihat dan mengetahui hasil dari kegiatan yang dilaksanakan,” jelas Kepala BP2KP Cilacap Sudjiman, SP. MP

Akibat keterbatasan Ketersediaan air menyebabkan lahan tadah hujan hanya dapat ditanami padi pada musim hujan dengan resiko ancaman kekeringan yang relatif tinggi. Kekeringan dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman, yang pada fase pertumbuhan kritis tanaman padi dapat mempengaruhi perolehan hasil panen, karena terjadi penurunan jumlah anakan.

Menyikapi permasalahan tersebut, Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat-LPPM Universitas Jenderal Soedirman –Unsoed Purwokerto mengembangkan Varietas Unggul Baru – VUB Padi yang toleran dengan kekurangan air, yang disebut dengan Inpago Unsoed 1. Sebagai langkah awal LPPM Universitas Jenderal Soedirman –Unsoed Purwokerto melakukan uji adaptasi Varietas Inpago Unsoed 1 di areal persawahan tadah hujan Desa Slarang Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap, seluas 50 ubin atau setara dengan 700 m2, pada lahan milik Kelompok Tani Maju Karya.

Peneliti LPPM Unsoed Purwokerto Prof. Dr. Ir. Suwarto dan Dr. Ir. Suprayogi, ketika meninjau lokasi uji adaptasi di Desa Slarang menyatakan, kegiatan pada laboratorium Pemuliaan Tanaman dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman dalam rangka perakitan padi gogo berdaya hasil dan bermutu tinggi pada tahun 2011 telah menghasilkan Varietas Inpago Unsoes 1 yang memiliki keunggulan toleran kekeringan dengan rata-rata hasil di lahan kering 4,9 ton/ha dengan potensi hasil 7,19 ton/ha. “ Jadi sebelum kami melakukan Demonstrasi Plot, sebagai langkah pendahuluan, kami bekerja sama dengan BP2KP Cilacap melakukan semacam uji adaptasi di areal tadah hujan Desa Slarang ini.” Jelas Prof. Dr. Ir. Suwarto

Hal senada diakui Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan-BP2KP Kabupaten Cilacap, Sudjiman, SP.MP., yang menyatakan siap mendukung kerja sama inovasi teknologi di bidang pemuliaan tanaman khususnya varietas unggul baru padi ini, baik melalui penyuluhan dan pendampingan kepada petani, maupun kegiatan desiminasi teknologi melalui Demplot-Demplot yang dilaksanakan bersama petani di wilayah Kabupaten Cilacap. “ Jadi prinsipnya, kami akan terus mengembangkan kerja sama dengan lembaga-lembaga penelitian, lembaga pengkajian maupun para pihak yang berkompeten dengan pembangunan pertanian secara luas,” Jelas Sudjiman.

Melalui pendekatan ini, penyuluh baik pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan dan kehutanan diharapkan akan memperoleh kemudahan untuk mengembangkan metode penyuluhan dan menyusun materi penyuluhan yang diperlukan oleh pelaku utama dan pelaku usaha. Sedangkan dengan mengikut-sertakan secara aktif pelaku utama akan lebih mudah mengadobsi inovasi teknologi baru, karena secara langsung dapat melihat dan mengetahui hasil dari kegiatan demplot yang dilaksanakan bersama tersebut.

Sementara itu, dari hasil ubinan uji adaptasi Varietas padi gogo Inpago Unsoed 1 tersebut, menunjukkan hasil 7,28 ton per hektar. Menurut Ketua Kelompok Tani Maju Karya Desa Slarang Kecamatan Kesugihan, Sukardi, teknik budidaya VUB padi Inpago Unsoed 1 yang dilakukannya dengan cara persemaian selama 21 hari, dengan penanaman, pemeliharaan sampai dengan pemanenan selama 74 hari. Pupuk dasar yang digunakan Petroganik sebanyak 2 sak atau 80 kg dan pupuk lanjutan Phonska (setelah 15 hari) sebanyak 27 kg serta Za 5 kg, Phonska 5 kg dan Furadan 2 kg untuk mengantisipasi serangan uret, disamping ditambahkan dengan Fungisida untuk mencegah serangan jamur. “ Ya memang serangan hama penyakit pada lahan kami saat ini sangat banyak dan yang terakhir virus blast yang menyebabkan sejumlah bulir gabah menjadi gabuk,” aku Sukardi.(Ang2id Prap)