Merintis Jalan Berbisnis Belibis

Arief Darmawan/ penyuluh BPTP Kalsel

Kontribusi ternak unggas terhadap penyediaan  daging sebesar 1.335.143 ton atau 64,46% dari jumlah total daging nasional  Kebutuhan daging sebagai sumber protein menjadi  meningkat, sehingga  perlu dilakukan terobosan pencarian hewan satwa liar yang mempunyai potensi sebagai alternatif penghasil daging. 

Eksplorasi dan pemburuan hewan liar dapat dijadikan  sumber pangan, untuk menambah    penghasilkan dan memenuhi kebutuhan protein hewani, sehingga perlu dilakukan pelestariannya berupa penangkaran dan budidaya jenis-jenis hewan tertentu.

Pemanfaatan  jenis-jenis hewan liar yang dianggap langka saat ini, dapat dilakukan dengan usaha  peternakan yang berpedoman pada prinsip-prinsip pelestarian . 

Sejarah Burung Belibis

Belibis atau Lesser Wishtling Duck merupakan salah satu hewan  bangsa itik liar dari famili Anatidae yang hidup di perairan tawar dan semak-semak pohon, serta mempunyai potensi sebagai penghasil daging.  Berdasarkan data (2006),  jumlah belibis yang ditangkap di Danau Mahakam Kalimantan Timur (2004) berkisar antara 120.000-165.000 ekor  dan dari jumlah tersebut sekitar 95% atau 114.000 – 156.000 ekor dipasarkan di Banjarmasin.

Hasil wawancara Lembaga Borneo Ecology and Biodiversity Conservation (BEBSIC), Pusat Penelitian Hutan Tropika (PPHT) , Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur dan Universitas Amsterdam Belanda dan  kelompok penangkap burung air, menyatakan bahwa, selama 2 tahun (2005-2007) telah menangkap sebanyak 28.629 ekor belibis kembang di Danau Mahakam Kalimantan Timur dan dalam waktu 3-4 hari mereka dapat menangkap rata-rata sebanyak 300 ekor belibis.

Eksistensi dan potensi hewan ini belum banyak terungkap, walaupun sebagian besar masyarakat telah mengenalnya sebagai itik liar.  Indonesia tercatat sebanyak 15 macam, dua di antaranya mempunyai  prospek yang baik untuk dikembangkan, yaitu Dendrocygna javanica (belibis batu) dan Dendrocygna arculata (belibis kembang).

Penyebaran belibis di dunia meliputi: Pakistan, Burma, Taiwan, Jepang, India bagian Selatan, China, Nepal Terai, Sri Lanka, Bangladesh, Myanmar, Asia Tenggara (Malaysia, Singapura, Thailand, Laos, Vietnam,  Brunei Darussalam dan Indonesia termasuk Kalimantan). Di Malaysia, belibis sepenuhnya merupakan hewan  yang dilindungi sehingga kelestariannya dijaga dengan baik,  sementara di Indonesia, hewan ini belum termasuk hewan liar yang dilindungi.

 

Ciri ciri Belibis

Ciri-ciri umum belibis antara lain: mempunyai warna bulu coklat kemerahan dengan kuning pucat di bagian kepala, terkadang  ada jalur yang berwarna kuning  pucat disekitar rusuk.  Bagian atas sayap berwarna coklat kemerahan hingga hitam, sementara bagian ekor berwarna coklat kemerahan yang dapat dilihat pada saat terbang.

Bagian bawah sayap berwarna hitam dengan panjang tubuh keseluruhan berkisar antara 38-40,1 cm. Warna bulu belibis  bervariasi  antara campuran warna hitam, kelabu dan coklat. Pada bagian kepala memiliki jambul kecil, paruh lebar dan tepinya  bergerigi dengan ujung paruh melebar, leher agak panjang, sayap agak sempit dan runcing serta ekor pendek.

Pada umumnya belibis jantan lebih besar dari betina.  Bobot badan  belibis jantan dewasa 1000 g/ekor dan betina 550 g/ekor. Perkembangbiakan belibis terjadi sepanjang tahun dengan jumlah telur berkisar antara 7-12 butir/periode bertelur atau clutch  atau 2-16 butir   dan waktu yang digunakan di antara dua musim bertelur ±4 bulan.

Belibis jantan dan betina bergantian untuk mengerami telurnya dengan lama telur dierami sampai menetas antara 26-30 hari dan melakukan aktivitas mengasuh anak.

 

Potensi Belibis

Permintaan pasar belibis ke rumah-rumah makan, khususnya di Kota Banjarmasin dan Kabupaten di Hulu Sungai  (Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Balangan dan Tabalong), Kalimantan Selatan cukup meningkat, dengan harga rata-rata di tingkat pemburu Rp. 12.000/ekor, dan di tingkat pengumpul antara Rp.15.000 - Rp. 20.000/ekor,

Jika pasokan di pasaran mengalami penurunan harga bisa mencapai Rp.35.000/ekor, hal ini disebabkan karena daging belibis sangat diminati konsumen,karena punya cita rasa yang gurih, dan kandungan lemaknya relatif rendah.

Untuk mendapatkannya dilakukan penangkapan atau perburuan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam jumlah masih terbatas.  Seandainya tidak terkendali, populasinya lama kelamaan semakin langka dan dikhawatirkan akan mengalami penurunan bahkan punah.  

Penangkapan  belibis yang melebihi ambang  batas ,secara ekologis dalam kurun waktu sepuluh tahun kedepan akan menyebabkan kepunahan. Jenis burung belibis  yang diburu saat ini mayoritas bukan jenis hewan yang dilindungi,

Penentuan jatah (quota) tangkap di tingkat lokal dapat diinisiasi dengan melibatkan pemerintah daerah, para pemburu, penampung dan Lembaga Swadaya Masyarakat. Untuk itu, diperlukan upaya pelestarian dan konservasi untuk menjaga dari ancaman kepunahan. 

Konservasi satwa liar merupakan kegiatan yang meliputi perlindungan pengawetan, pemeliharaan, rehabilitasi, introduksi, pelestarian, pemanfaatan dan pengembangan hewan liar, bertujuan menjamin kelangsungan hidup dan kebutuhan masyarakat, baik langsung maupun tidak langsung berdasarkan prinsip pelestarian.

Upaya untuk menjaga populasi dan kelestariannya dari kepunahan tersebut, perlu usaha-usaha yang dapat meningkatkan jumlah populasi dan sekaligus pelestariannya adalah dengan cara dibudidayakan sesuai habitatnya.

 

Upaya Budidaya

Usaha pemeliharaan dapat dilakukan baik secara in situ, maupun  ex situ. Pemeliharaan secara in situ yaitu pemeliharaan hewan liar di dalam habitat aslinya yang setelah ditetapkan sebagai kawasan yang dilindungi, sedangkan ex situ  pemeliharaan hewan liar di luar habitat aslinya, antara lain dengan cara pengaturan pemanfaatannya, penangkaran, pemeliharaan di taman burung atau kebun binatang. 

Upaya pembudidayaan atau penangkaran , bukan saja dalam rangka memenuhi kebutuhan protein hewani dan penganekaragaman atau diversifikasi pangan, melainkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat pedesaan yang sebagian hidupnya dari pendayagunaan satwa ini.


Upaya eksplorasi potensi dan karakterisasi untuk mengetahui sifat-sifat dari aspek biologi (perilaku, morfologi, pakan dan sumbernya, cara bertelur, habitat serta kebiasaan bersosialisasi), bahkan aspek predasi yang dapat mengancam kehidupannya perlu segera dilakukan.

Terdapat delapan jenis spesies belibis atau itik pohon, yaitu: Dendrocygna viduata, Dendrocygna autummalis, Dendrocygna guttata, Dendrocygna arborea, Dendrocygna bicolor, Dendrocygna eytoni, Dendrocygna arculata dan Dendrocygna javanica. Disebut itik pohon, karena belibis ini mempunyai sifat suka membuat sarang dan bertelur di lubang-lubang pohon atau  buluh-buluh di permukaaan tanah dan semak-semak tumbuhan yang ada di sekitar habitatnya.

Makanan belibis  terdiri atas  rumput-rumputan, biji-bijian, binatang kecil yang hidup di air, gulma air, keong kecil, cacing, jenis ampibia dan jenis moluska lainnya, sisa  padi di sawah-sawah yang baru selesai panen dan eceng gondok.

 

Program Penelitian

Program - program pengembangan penelitian hewan liar dapat dibedakan menjadi  tiga kriteria, yaitu: 1) program penelitian di lokasi kebun binatang sebagai wadah hewan liar yang sudah ada, 2) program penelitian di daerah perlindungan alam atau suaka margasatwa, dan 3) program penelitian di pedesaan, bekerjasama dengan masyarakat setempat yang mempunyai aplikasi luas di masa depan. 

Kriteria ke tiga merupakan kegiatan yang mempunyai prospek luas, karena sudah merupakan tahapan implementasi pengembangan teknologi tepat guna yang dikaitkan dengan program pengembangan pedesaan dan regional.

Pertimbangannya bahwa, tingkat dan sifat proses pengembangan ekonomi, sumber daya setempat dan satwa tersebut memungkinkan dikembangkan untuk tujuan konsumsi sendiri dan usaha komersial.

Aspek perbaikan jenis ternak tertentu yang terjadi di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia adalah melakukan kegiatan  konservasi untuk melihat variasi genetik ternak yang ada. (13/o5/2011, Disarikan dari berbagai sumber).